PENGALAMANKU MENGAWAS UNAS DI SEKOLAH RSBI.
Pada Ujian Nasional tahun pelajaran 2010-2011 ini aku mendapat tugas menjadi pengwas di sekolah RSBI . SMA Negeri yang baru setahun menjadi sekolah RSBI ini tampak terus berbenah fasilitas,terutama gedung,kebersihan dan keindahan juga tertata rapi dan nyaman.
Di salah satu ruang tempat aku mengawas,aku melihat ada MADING yang disediakan khusus tuk informasi yang berkaitan dengan RSBI. Mading yang terbuat dari foam dan sederhana tersebut memuat banyak hal tentang RSBI. Ada kutipan/copy berita tentang RSBI,wawancara siswa dengan Kepala Sekolah tentang pelaksanaan RSBI di sekolah tersebut,juga beberapa keunggulan RSBI dibandingkan dengan sekolah Reguler/SSN (Sekolah Standar Nasional). Isi mading tersebut sepertinya merupakan hasil karya para siswa kelas yang merupakan tugas Bahasa Indonesia, yang difokuskan pada pemahaman siswa ( atau bahkan merupakan “brain washing”) pada masalah RSBI,agar siswa melihat sisi positifnya saja dan mengabaikan sisi negatifnya.
Aku terkejut ketika sempat membaca beberapa tulisan di mading tersebut karena yang dimunculkan memang sisi positif dari RSBI dan juga ada kesan bahwa para siswa dikondisikan agar mereka meyakini bahwa sekolah RSBI memang mempunyai segudang keunngulan dibandingkan dengan sekolah reguler/SSN. Beberapa keunggulan yang tertulis di mading tersebut antara lain bahwa sekolah RSBI :
1. Bebas dari asap rokok.
2. Unggul dalam penguasaan Bahsa Inggris.
3. Unggul dalam penguasaan Informasi dan Teknologi ( IT ).
4. Menghasilkan kelulusan yang selalu naik.
5. Mempunyai kurikulum berstandar Internasional.
Pertanyaannya adalah ,benarkah keunggulan terssebut di atas hanya ada pada sekolah RSBI?
Kenyataannya tidak seperti itu! Sekolah regulerpun mempunyai keunggulan yang sama. Kalau berbicara tentang sekolah bebas asap rokok, saat ini semua sekolah sudah menjadikan itu sebagai salah satu tatib sekolah. Bukan hanya siswa yang dilarang merokok tetapi juga guru dilarang merokok dilingkungan sekolah.Bahkan simbol yang berupa patung anti rokok bantuan pemerintah terbangun dibanyak sekolah reguler,bukan hanya RSBI.Bukankah bebas asap rokok di banyak tempat tertentu telah menjadi komitmen nasional?Bukan monopoli sekolah RSBI. Inikah yang dikatakan unggul?
Sekolah dimana aku mengajar bukan sekolah RSBI, akan tetapi telah memberikan penguatan kemampuan berbahasa Inggris pada siswa dengan tambahan materi TOEFL dan TOEIC. Kemampuan mereka terhadap penguasaan keduanya ( TOEFL dan TOEIC) diuji oleh pihak ketiga, olehPerguruan Tinggi di Kota Malang dan lembaga Internasional ICAS ( Internasional Competitions and Assessments for School) dari New Southwales University Australia.Kalau sekolah reguler bisa dan telah melaksanakan penguatan Bahasa Inggris,patutkah ini diakui sebagai keunggulan sekolah RSBI?
Hampir semua sekolah saat ini telah memberikan sarana IT yang memadai,mulai dari hardware hingga sofware, penyediaan wi-fi dan sagusala ( satu guru satu laptop) untuk pengajaran, juga satu siswa satu komputer,di lab Komputer,belum termasuk lab Multimedia yang berbasis Komputer. Wajarlah kalau para siswa menguasai IT.Bahkan seorang siswa di sekolahku ,sekolah Reguler,telah berhasil menjadi wakil Malang yang ditunjuk pemerintah pusat menjadi duta IT ke Philipina tahun 2010.Kalau banyak sekolah reguler yang memberi penguatan di bidang IT kepada para siswanya, patutukah ini diakui sebagai keunggulan sekolah RSBI?
Tentang prosentase kelulusan,walaupun sekolahku bukan RSBI ,akan tetapi tingkat kelulusannya melebihi beberapa sekolah RSBI di kota Malang pada tahun pelajaran 2009-2010. Dengan kata lain,bahwa tingkat kelulusan sekolah RSBI tidak juga melebihi sekolah Reguler. Keunggulannya dimana?
Perlukah Kurikulum Internasional kalau dalam kenyataannya hampir tidak ada siswa RSBI yang lanjut ke Luar Negeri. What for,then?
Disisi lain,kelemahan yang fatal dari sekolah RSBI adalah kemampuan guru dalam menggunakan pengantar Bahasa Inggris dalam pengajaran di kelas,juga diakui sebagai kendala yang tertulis di mading tersebut. Kalau gurunya saja tidak mampu menggunakan Bahasa Inggris sebagai pengantar dalam instruksional di kelas, lalu bagaimana memahamkan konsep mapel kepada siswa? Menggunakan Bahasa Indonesia? So , RSBI-nya mana? Oh… asalkan bukunya berbahasa Inggris? Atau gedung yang megah,bersih, asri dan bebas asap rokok? Jadi, apakah esensi RSBI itu pada fasilitas/cover atau kontennya?
Aku lalu termenung dan bertanya,kemana arah pendidikan ini akan di bawa? Bangsa yang sudah merdeka selama 66 tahun ini masih belum mampu menentukan arah pendidikan yang jelas. Haruskah kita selalu berada di bawa bayang-bayang asing dalam mencerdaskan anak bangsa? Ya wajarlah kalau RSBI perlu dikoreksi atau sekalian dicabut saja agar tidak menimbulkan dikotomi dalam pendidikan di negeri ini. Semoga.
By Drs. Saleh,guru Bahasa Inggris SMA negeri 2 Malang.






