Home Umum RSBI,PERLUKAH?
Indonesian (ID)English (United Kingdom)
RSBI,PERLUKAH?
PDF
Print
E-mail
Drs. Saleh   /   Saturday, 30 April 2011 10:50
There are no translations available.

Aku terkejut ketika sempat membaca beberapa tulisan di mading tersebut karena yang dimunculkan memang sisi positif dari RSBI dan juga ada kesan bahwa para siswa dikondisikan agar mereka meyakini bahwa sekolah RSBI memang mempunyai segudang keunngulan  dibandingkan dengan sekolah reguler/SSN. Beberapa keunggulan yang tertulis di mading tersebut antara lain bahwa sekolah RSBI :

1.       Bebas dari asap rokok.

2.       Unggul dalam penguasaan Bahsa Inggris.

3.       Unggul dalam penguasaan Informasi dan Teknologi ( IT ).

4.       Menghasilkan kelulusan yang selalu naik.

5.       Mempunyai kurikulum berstandar Internasional.

Pertanyaannya adalah ,benarkah keunggulan terssebut di atas hanya ada pada sekolah RSBI?

Kenyataannya tidak seperti itu! Sekolah regulerpun mempunyai keunggulan yang sama. Kalau berbicara tentang sekolah bebas asap rokok, saat ini semua sekolah sudah menjadikan itu sebagai salah satu tatib sekolah. Bukan hanya siswa yang dilarang merokok tetapi juga guru dilarang merokok dilingkungan sekolah.Bahkan simbol yang berupa patung anti rokok bantuan pemerintah terbangun dibanyak sekolah reguler,bukan hanya RSBI.Bukankah bebas asap rokok di banyak tempat tertentu telah menjadi komitmen nasional?Bukan monopoli sekolah RSBI. Inikah yang dikatakan unggul?

Sekolah dimana aku mengajar bukan sekolah RSBI, akan tetapi telah memberikan penguatan kemampuan berbahasa Inggris pada siswa dengan tambahan materi TOEFL dan TOEIC. Kemampuan mereka terhadap penguasaan keduanya ( TOEFL dan TOEIC) diuji oleh pihak ketiga, olehPerguruan Tinggi di Kota Malang dan lembaga Internasional ICAS ( Internasional Competitions and Assessments for School) dari New Southwales University Australia.Kalau sekolah reguler bisa dan telah melaksanakan penguatan Bahasa Inggris,patutkah ini diakui sebagai keunggulan sekolah RSBI?

Hampir semua sekolah saat ini telah memberikan sarana IT yang memadai,mulai dari hardware hingga sofware, penyediaan wi-fi dan sagusala ( satu guru satu laptop) untuk pengajaran, juga satu siswa satu komputer,di lab Komputer,belum termasuk lab Multimedia yang berbasis Komputer. Wajarlah kalau para siswa menguasai IT.Bahkan seorang siswa di sekolahku ,sekolah Reguler,telah berhasil menjadi wakil Malang  yang ditunjuk pemerintah pusat menjadi duta IT ke Philipina tahun  2010.Kalau banyak sekolah reguler yang memberi penguatan di bidang IT kepada para siswanya, patutukah ini diakui sebagai keunggulan sekolah RSBI?

Tentang prosentase kelulusan,walaupun sekolahku bukan RSBI ,akan tetapi tingkat kelulusannya melebihi beberapa sekolah RSBI di kota Malang pada tahun pelajaran 2009-2010. Dengan kata lain,bahwa tingkat kelulusan sekolah RSBI tidak juga melebihi sekolah Reguler. Keunggulannya dimana?

Perlukah Kurikulum Internasional kalau dalam kenyataannya hampir tidak ada siswa RSBI  yang lanjut ke Luar Negeri. What for,then?

Disisi lain,kelemahan yang fatal dari sekolah RSBI  adalah kemampuan guru dalam menggunakan pengantar Bahasa Inggris dalam pengajaran di kelas,juga diakui sebagai kendala yang tertulis di mading tersebut. Kalau gurunya saja tidak mampu menggunakan  Bahasa Inggris sebagai pengantar dalam instruksional di kelas, lalu bagaimana memahamkan konsep mapel kepada siswa? Menggunakan Bahasa Indonesia? So , RSBI-nya mana? Oh… asalkan bukunya berbahasa Inggris? Atau gedung yang megah,bersih, asri dan bebas asap rokok? Jadi, apakah esensi RSBI itu pada fasilitas/cover atau kontennya?

Aku lalu termenung dan bertanya,kemana arah pendidikan ini akan di bawa? Bangsa yang sudah merdeka selama 66 tahun ini masih belum mampu menentukan arah pendidikan yang jelas. Haruskah kita selalu berada di bawa bayang-bayang asing dalam mencerdaskan anak bangsa? Ya wajarlah kalau RSBI perlu dikoreksi atau sekalian dicabut saja agar tidak menimbulkan dikotomi dalam pendidikan di negeri ini. Semoga.

By Drs. Saleh,guru Bahasa Inggris SMA negeri 2 Malang.

Copyright (c) 2010 SMA Negeri 2 Malang
Jl. Laks. Martadinata 84 Malang